Kebaikan dan Kejahatan?

I’ve been thinking over and over again about this..

I’ve thought about it, then papa suddenly persisting on it..

But man, i’m too lazy, i have many works to be done, but i’m just too lazy…
But then i found my self running around in circles without doing anything useful, i even thought to install a game to play *what a shame*

Then finally i decided, writing this is way more useful than playing some stupid games, so here goes:

“In religion and ethics, the phrase good and evil refers to the location of objects, desires, and behaviors on a two-way spectrum, with one direction being morally positive (“good”), and the other morally negative (“evil”). “Good” is a broad concept and is difficult to define, but typically it deals with an association with life, continuity, happiness, desirability, or human flourishing. Evil is often defined as the opposite of good. Depending on the context, good and evil may represent personal judgments, societal norms, or claims of absolute value related to human nature or to transcendent religious standards.”

Papa memiliki seorang cece yang sekarang tinggal di amerika, karena itu aku memanggilnya Kuku Amerika.

Kejadian ini terjadi sudah bertahun-tahun lama, dan menurut kami (aku dan papa) merupakan salah satu pelajaran hidup yang sangat penting.

Dulu, sewaktu masih tinggal di Bima, Kuku memiliki seorang suami yang suka berjudi, minum minuman keras dan senang memukul. Karena itu, mereka sering kehabisan uang. Lalu Kuku akan pergi ke saudara-saudaranya untuk meminta bantuan uang.

Waktupun berjalan terus, kejadian pun kerap berulang-ulang kembali, hingga akhirnya papa tidak mau lagi memberikan pinjaman.

Pada saat itu papa sudah cukup mapan dan sudah menikah dengan mama.

Bukannya papa tidak mau membantu, tetapi papa berfikir, mungkin, karena kejadian ini terus menerus terjadi, ini sudah berubah menjadi suatu kebiasaan (refer below). Menurut asumsi papa, mungkin suami kuku berpikir, “ah, enak aja gua senang-senang, judi, nanti kalau duit habis, aku sisa pukul aja istriku, suru minta duit ke saudaranya. Kan nggak mungkin mereka nggak kasih, masa nggak kasihan sama saudara sendiri.”

Habituation is very similar to acclimation, in that repetition of certain behaviors that are rewarding to a life form will likely be continued, or ingrained in a habitual manner. For example, for all life forms on Earth, obtaining life-sustaining matter that exists externally from those beings, such as food, water and shelter, is a habituated behavior. The learning underlying habituation is a fundamental or basic process of biological systems and does not require conscious motivation or awareness to occur. Indeed, without habituation we would be unable to distinguish meaningful information from the background, unchanging information. Habituation has been shown in essentially every species of animal, including the large protozoan Stentor coeruleus. [1]”

Sebenarnya sih papa masih memberikan bantuan, tapi bukan dari dirinya lagi, melainkan melalui kakak laki-lakinya yang ke 2, yang aku sebut dengan panggilan Ampek Arjuna.

Maka, terjadilah sebuah keributan, sebab Kuku marah karena terhadap mama karena tidak memberikan uang pinjaman, dimana pada tahap itu, sampai Kuku berniat untuk memukul mama.

Karena itu, papa pun menggelar pertemuan dengan Kuku dan Ampek. Disana Kuku (atau mungkin suaminya kuku, sebab aku lupa) bilang kepada Papa bahwa Saudara itu adalah saudara, tidak terpisahkan, terikat darah, kok tega kamu tidak mau membantu saudara! Istri itu siapa sih, dikawin-cerai juga bisa, cari lagi juga banyak, masa kamu mau bela istri daripada saudara!

Nah, dalam kalimat diatas, dapat kita analisa, memang benar saudara itu memiliki ikatan darah, tapi setiap kejadian harus dilihat dari situasi dan kondisinya, tidak bisa disama-ratakan seperti yang kuku katakan.

“A stereotype is a type of logical oversimplification in which all the members of a class or set are considered to be definable by an easily distinguishable set of characteristics. The term is often used with a negative connotation, as stereotypes can be used to deny individuals respect or legitimacy based on their membership in a particular group. In America, the term has long been associated with the Civil Rights movement and is imbued with a semblance of racial context.”

Lalu papa pun mengatakan, kalau istriku tidak memberi kamu uang, itu bukan berarti istriku yang tidak mau, itu karena aku yang menyuruhnya untuk tidak memberi kamu uang!

Memang benar kita adalah saudara, tetapi harus kamu sadari, disaat aku sakit dan lapar, siapa yang pertama akan membantu dan merawat aku? Tentu saja istriku! Kalau aku mau tunggu kalian para saudara datang untung merawat aku, ya aku mati duluan! Jadi kamu jangan seenaknya saja bilang istri bisa dicari, sebab disaat aku susah maupun senang, ia yang akan terus mendampingi aku menjalani hidup.

Bukannya aku tidak mau membantu kamu, aku tetap membantu kamu, tapi melalui tangan lain, yaitu Ampek, karena aku tidak mau kamu terjerumus dalam lingkaran yang terus berulang-ulang seperti ini. Nanti yang kasihan adalah kamu, nanti kamu akan terus sering dipukul hanya supaya kamu meminta uang ke saudaramu. Jadi lebih baik aku “jahat” sekarang dan kau benci demi kebaikan dimasa yang akan datang, daripada aku berbuat “baik” untuk menyenangkan-mu sekarang tapi secara tidak langsung menjerumuskan kamu ke situasi yang lebih parah daripada sekarang.

Semenjak itu, Papa dan Kuku “putus hubungan”. Namun seiring berjalannya waktu, kebenaran makin terungkap. Kuku pun lambat laun tidak tahan juga diperlakukan begitu terus oleh suaminya, dan dia mulai menyadari kebenaran dari kata-kata Papa, dan dia sudah menulis surat dan meminta maaf kepada Papa dan Mama.

Sesungguhnya Papa dan Mama tidak ada dendam apapun terhadap Kuku, Cuma kuku sendiri yang sedang marah terhadap mereka, oleh sebab itu, setelah Kuku menyadari kesalahannya, maka dia kembali berbaikan dengan Papa dan Mama, dan Papa dan Mama pun menerima dengan tangan terbuka.

Setelah itu banyak kejadian terjadi, Kuku berpisah dengan Suaminya dengan cara kabur ke Amerika dengan bantuan Papa juga. Dan sampai sekarang masih tinggal disana dengan anak perempuannya. Suami Kuku sudah lama meninggal dunia, dan di Surabaya hanya tersisa anak laki-lakinya yang dulu memilh untuk tinggal bersama dengan ayahnya.

Dapat kita amati bahwa dalam cerita ini terdapat 2 kasus yang sama tapi dengan penyelesaian yang berbeda. Di kasus Papa, papa memilih istri daripada saudara. Sementara di kasus Kuku, kuku memilih saudara daripada Suami. Kenapa bisa begini? Dari sini saya mengambil kesimpulan, kalau hukum itu tidak tetap, tapi harus dilihat melalui situasi dan kondisi. Jadi bukan A harus A, harus baik-baik difikirkan, mana yang benar dan jalan keluar apa yang terbaik.

Sekian merupakan salah satu kejadian dalam hidup Papaku yang kami harap dapat terus diambil hikmahnya oleh kita anak-anak muda.

~ by v0310v on 12/07/2009.

3 Responses to “Kebaikan dan Kejahatan?”

  1. duit itu emang sumber bencana ya. dulu si oom (panggilanya oom M aja ya) kan suka pinjem duit ke papa. once dia gag dpinjemin langsung mau mukul papa gtu. untung papa itu olahraga rutin, jd refleknya bagus, alhasil si oom M tangannya mukul kaca sampe berdarah2…nah malah papa lagi yg ngobatin ama balutin lukanya…=.=”

    • buset deh, trus apa yang terjadi?
      Tp gituan jg disini sering terjadi kok.. -_-’

  2. yah tetep aja…even after incident si oom masih minta duit ke papa…cuma gag sesadiz itu lah, n papa juga gag mau minjemin…skrg dia pinjem ma sodara2 yg lain atau ama spupu gw yg di surabaya yg nikah ama cowo chinese tajir ;p

    ah gara2 duit……duit duit duit…duit itu sumber bencana kok =.=”

Leave a Reply